Pemberlakuan bagan pemisahan alur laut atau TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok

For every person there is a cat that looks exactly the same

Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) menyiapkan patroli keamanan bersama dengan stakeholder maritim. Patroli digelar menjelang pemberlakuan bagan pemisahan alur laut atau Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok.
“Dapat kami informasikan bahwa TSS Selat Sunda dan Lombok ini akan efektif berlaku mulai 1 Juli 2020. Saya dan kawan-kawan di (Ditjen) Perhubungan Laut sudah mempersiapkan secara maksimal supaya kesiapan kita betul-betul siap kemudian nanti implementasinya juga siap sehingga di mata dunia internasional (pelaksanaannya) tidak ada hambatan,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut R. Agus H. Purnomo dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2020).

Hal itu diucapkannya saat membuka Rapat Kesiapan Patroli Keamanan TSS Selat Sunda dan Selat Lombok secara virtual di Jakarta, pada Selasa (10/6/2020). Kata dia, Direktorat Kenavigasian juga telah menyiapkan sarana dan prasarananya, mulai dari Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) sampai dengan Vessel Traffic Service (VTS) dan ini akan beroperasi selama 24 jam.

“Saat ini di Selat Sunda (lalu lintas) memang ramai sekali, begitu juga dengan Selat Lombok yang lumayan ramai sehingga ini harus betul-betul siap. Selain peralatan yang ada, ada back up juga dari sisi SDM-nya dan kami menilai SDM-nya sudah cukup lengkap,” kata Agus.

Lebih lanjut rapat kesiapan patroli ini bertujuan untuk melakukan koordinasi kesiapan patroli keamanan untuk implementasi tanggal 1 Juli 2020, di mana Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) sudah menyiapkan simulasi dari patrolinya.

“Kami berharap dari rapat kesiapan patroli ini kawan-kawan dari instansi lain dapat memberikan masukan-masukannya karena kawan-kawan juga sudah saling berkoordinasi erat sehingga nanti acara simulasi ini dapat betul-betul dilaksanakan sebaik-baiknya dan pada implementasinya, juga dapat berjalan dengan sebaik-baiknya,” ucap Agus.

“Selain kapal-kapal asing, yang sangat kritikal adalah kapal-kapal rakyat, nelayan, kapal penyeberangan yang ramai sekali di sana bagaimana supaya bisa diatur dengan jelas sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” sambung Agus.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kenavigasian Hengki Angkasawan yang turut hadir pada rapat kesiapan tersebut menjelaskan bahwa pihaknya telah melaksanakan persiapan yang dibutuhkan dalam rencana implementasi TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok.

Mulai dari penyiapan Sarana dan Prasarana VTS, penyiapan Sarana dan Prasarana SBNP, peningkatan kapasitas SDM VTS melalui kegiatan refresher dan mentoring secara online, serta penyiapan Navigation Guideline.

“Kami juga telah melakukan sosialisasi implementasi TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok, serta penyebaran informasi baik melalui AIS Broadcast dan SMS Blast yang bekerja sama dengan Kemkominfo R. Di samping itu, kami juga melakukan publikasi secara internasional kerja sama dengan witherbys berupa penyusunan passage plan,” ujar Hengki.

Sebagai informasi, Menhub sudah menetapkan Sistem Rute dan Tata Cara Berlalu lintas di selat Sunda dan Lombok sesuai KM 130 Tahun 2020 Ttg Penetapan Sistem Rute di Selat Sunda dan KM 129 Tahun 2020 Ttg Penetapan Sistem Rute di Selat Lombok.

Demikian juga dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 129 Tahun 2016 tentang Alur Pelayaran Laut dan Bangunan dan/atau instalasi di Perairan, serta IMO SN. Circ./181 on Compliance With Ships Routeing Measures.

Report

What do you think?

819 points
Upvote Downvote

Written by admin

Comments

Leave a Reply

Loading…

0

15 Dog Owners Who Look Like Their Dogs

3 Adorable Moments That Explain Why Your Kids Need A Cat (Open list)